
Hem.. ni pertama kalinya gw buat blog. jadi nervous euy.. hehe,
ok,ok, gw lagi pengen banget nulis tentang satu film yang tadi gw tonton : NINE
Film ini bergenre drama musical film disutradarai sama Rob Marshall (sutradaranya Chicago -film musikal juga-) dan ini adalah karya pertama dia setelah 10 tahun yang lalu menyutradarai Chicago yang sukses di pasaran.
Film ini intinya bercerita tentang seorang sutradara terkenal bernama Guido Contini (Daniel Day Lewis) yang akan membuat film baru setelah karya terakhirnya yang sangat sukses di pasaran bertahun-tahun yang lalu. *kyknya ada curhat juga nih dari Rob Marshall, hehe*
Nah, si Guido ini pusing tujuh keliling karena dia didesak-desak terus sma orang-orang disekitarnya buat bikin naskah filmnya, padahal dia sama sekali blum punya inspirasi buat bikin film, dan dia merasa bener-bener nge-blank buat bikin film. Karena kegalauan-nya itulah akhirnya dia pergi ke Italia buat nyari inspirasi. Disanalah dia berkutat mencari inspirasi film-nya sekaligus meribetkan hidupnya sendiri dengan berhubungan dengan wanita-wanita di sekelilingnya yaitu:
Istrinya, Luisa (Marion Cotillard)
Selingkuhannya, Carla (Penelope Cruz)
Jurnalis fashion Amerika (Kate Hudson)
Aktris utama filmnya, Claudia (Nicole Kidman)
Desainer kostum sekaligus sahabatnya (Judi Dench)
Ibunya (Sophia Loren) dan
Pelacur saat dia muda (Fergie-nya Black Eyed Peas)
well,, walaupun film ini bagus, gw gak mau menyorot masalah jalan cerita ataupun kualitas dari film ini, gw mau ngebahas salah satu poin yang gw tangkep dari film ini:
Feminisme
Gini, didalam cerita film ini, Luisa (istrinya) sebenarnya sebelum menikah dengan Guido adalah seorang aktris, tetapi setelah menikah dengan Guido, dia berhenti ber-akting demi menjadi istri yang baik, bahkan pada saat Guido ketahuan selingkuh, dia tetap diam dan melakukan pemakluman terhadap sikap Guido. Ini adalah bentuk sikap perempuan masa itu yang selalu nrimo dan tunduk terhadap suami. Sudut feminisme ini bisa dilihat dari dialog:
Luisa : "You take everything from me, and you left nothing when i am become your wife"
sudut pandang feminis ini juga gw bisa lihat dari dialognya Clara pas Guido pergi
Clara : " I am always waiting in here with my legs open"
dari dua dialog ini udah bisa dilihat pembagian peran perempuan di film itu yang hanya berkutat di wilayah domestik dan dinilai dari hanya sekedar fisik oleh pria pada zaman itu, karena di salah satu adegan film ini dimana Guido dan sutradara harus meng-casting pemeran untuk filmnya Guido, komentar yang keluar hanya bersifat fisik.
Disini kekuatan perempuan dalam mempengaruhi kehidupan pria terletak dari perannya sebagai ibu (tercermin dari betapa pengaruh almarhum ibu Guido terhadap Guido di film ini sangat kuat), istri (tercermin dari betapa terpuruknya Guido ketika dia harus berpisah dengan Luisa), serta kepuasan fisik - lebih tepatnya seks- (tercermin betapa Clara, si Jurnalis Fashion Amerika serta sang pelacur mempengaruhi pandangan Guido dalam melihat perempuan).Di dalam film ini terdapat paradoks dimana perempuan digambarkan lemah sekaligus mempunyai pengaruh yang kuat terhadap laki-laki.
Yang paling menarik perhatian gw adalah apa yg dialami tokoh Luisa di film ini. Gw jadi bertanya-tanya, knp Luisa akhirnya memutuskan untuk brhenti brkarir? apa itu yg menjamin keutuhan sebuah keluarga bila seorang perempuan sudah bersuami? kebahagiaan yang diperkirakan akan datang dengan menjadikan suami dan keluarga sebgai sumber utama kebahagiaan.
Kalaupun seorang perempuan pada akhirnya memutuskan untuk berkarir, apakah itu menjamin wanita itu akan merasa bebas dan bahagia, seperti yang akhirnya dialami oleh tokoh Luisa di film ini pada bagian akhir?
Hem.. gw jadi berpikir deh tentang diri gw sendiri kedepannya.
Well, now about this film. Awalnya gw pikir ini cuma film seneng-seneng ala Moulin Rouge atau Chicago yang mengeksploitasi kisah percintaan klise yang dibalut dengan musik dan tata cahaya yang oke, tetapi ternyata film ini memberi gw lebih dari itu.
so, gw sangat merekomendasikan film ini buat lu tonton, especially when u studied feminism in u'r school make this film become u'r reference.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar